Archive for March, 2005

We awake as children

Thursday, March 31st, 2005

We awake as children at the dawn of our lives
With a gift of love firmly placed in our hearts.
There it must wait through good times and bad
Till another comes near, with love to be had.

Each child grows on an uncertain path.
Each journey twists with uncaring chance.
How lucky the few who come to know
The joy of that gift, wrapped so long ago.

What are the odds in life’s wondrous game
That you and I, to each other, now came?
Each with the gift still to be opened.
Each with a promise as yet unspoken.

For the gift was not ours to be used in our way.
But ours to be cared for and held till the day
When it could be shared without hesitation
And joined with another’s, without reservation.

Alone, we are empty and too soon grow old.
But with you as my love, I can dare to be bold.
Come now, my darling, and unwrap my heart.
One path, forever. One life to start.

Rindu

Tuesday, March 29th, 2005

Suatu hari. Ada acara selapanan cucuku terbaru. Sayang hari kerja. Semua hadir. Ayah si bayi. Ibu-ibu cucuku. Cucu-cucuku. Kecuali Wiedha, anakku. Dan Romi, mantuku.

Menjelang jam enam Wiedha datang. Sasa, hampir tiga tahun, berlari menyambutnya. Memeluk meluk ayahnya. Berlari mengelilinginya. Dan berteriak teriak gembira, "Ini ayah adik! Ini ayah adik! Ini ayah adik."

Najma, anak Astrid, sesaat memperhatikan itu. Kemudian tiba tiba bergerak. Setengah berlari. Meninggalkan halaman depan. Masuk ruang tamu. Akan berbelok ke ruang makan. Tidak jadi, mungkin karena banyak ibu ibu tertawa tertiwi di sana. Ragu ragu sejenak. Masuk ke kamarku. Dan tak keluar lagi.

Aku tertegun. Hampir tak kudengar Wiedha menyapa. Aku menyusul masuk ke kamar.

Najma berdiri di sudut. Tunduk. Bermain main tangannya. Menangis tanpa suara.

Najma. Belum tiga tahun. Kecil. Mungil. Imut. Menangis sesenggukan.

Hatiku sakit. Ingin memeluknya. Mendekapnya. Mengusap rambutnya. Ia menggelengkan kepala. Merentangkan tangan menolak.

"Kenapa, Wuk?" tanyaku. "Main di luar yuk. Mau coklat?"

Najma menggelengkan kepala. Matanya basah. "Ayah kakak di kantor! Ayah kakak di kantor!" katanya di antara sesenggukannya. "Kakak juga punya ayah!"

Aku menghela napas.

"Iya, iya … ayah Kakak di kantor … nanti datang …"

"Mau sekarang! Mau sekarang!"

Ibunya datang. Najma tidak mau beranjak. Eyang Utinya datang. Najma tidak mau beranjak. Pintu terbuka membawa suara Sasa meneriakkan ayahnya. Najma makin merajuk.

Aku tutup pintu. Aku berikan HP-ku padanya. "Telpun ayah, ya?" kataku menekan nomor kantor ayahnya. Di antara tangisnya ia mengangguk. Kuberikan HP padanya. Dan aku ke luar. Menutup pintu lagi.

Najma. Najma saja. Belum tiga tahun. Sudah kenal rindu. Cemburu. Iri.

Beberapa lama kemudian, ia ke luar. Memberikan HPku kembali. "Ma kasih, Akung," bisiknya. Dan ia memelukku.

Maret 30 2005

Secangkir Kenangan.

Sunday, March 27th, 2005

Siang.

Rame di kamar hotelku. Dan engkau haus. "Oh, semua gelas dah terpakai," kataku bingung — aku ingin memberikan yang terbaik untukmu, tapi kawan kawanmu telah minum lebih dahulu. "Biar aku cucikan satu." Aku sok galan.

"Ngga usah deh," katamu. "Ini cangkir siapa?" kamu mengangkat cangkirku. Masih ada air separuh di dalamnya. "Itu sih punya hotel," kataku mencoba bergurau.

"Biar aku cucikan satu," temanmu lagi lagi lebih cepat dariku. Masuk ke kamar mandi membawa sebuah gelas bekas.

"Iya, tapi tadi kamu minum dari ini, kan?" kamu tak memperhatikan dia. Oh, terima kasih, Tuhan! Matamu yang bening malah melihat aku, dan cangkir itu.

"I … iya," kataku gugup. Tak mengerti.

"Ya, udah, aku pake ya …" dan tanpa ragu kau minum dari cangkir itu. Aku terpana. Tak berani berkata apa apa. Bahkan tak berani melihat.

Malam.

Atau, tepatnya, pagi. Jam dua. Aku terseyok berjalan sendiri di lorong antar kamar hotel mewah itu. Sepi. Capek. Jalan jalan tak keruan di kota yang asing, di tanah asing.

Aku duduk di kamar yang luas. Tapi sepi. Dan terbayang kau tadi siang mondar mandir di sini. Berbaring di tempat tidur ini, dengan sepatu kets tetap kau pakai. Pipis di kamar mandi itu. Solat di depan pintu. Dan minum dari cangkir itu.

Aku angkat cangkir itu. Dadaku berdebar keras. Masih ada bekas lipstickmu. Jelas sekali.

Pelahan aku angkat. Dan aku minum sisa air di cangkir itu. Di cangkir itu.

Ah.

Betapa pun cepat kita berlari, kita tak kan bisa meninggalkan masa lalu.  Kenangan itu selalu menyusul kita.

dj O.

Seorang Teman Meragukan Rekan Sekerjanya.

Thursday, March 24th, 2005

Seorang teman meragukan teman sekerjanya, berkata ia tak mengerti mengapa ia tak pernah mengerti mengapa teman sekerjanya itu tak pernah mengerti apa yang diajukannya sebagai tidak kemengertian.

Kalau kamu bingung akan kalimat di atas maka sebetulnya itulah yang sedang terjadi.

Kalau menelaah baik baik kalimat itu tentunya kamu akan mengerti.

Ditelaah pelan pelan, tanpa emosi, dengan hati terbuka dan itikad mau menerima.

Atau jalan pintasnya ada, bertanyalah dan bertanyalah dengan hati tanpa beban perasaan bahwa apa yang dikatakannya pasti salah dan kita pasti benar.

Tanyakan padaku apa arti kalimat di atas dan aku akan terangkan. Dan aku mestinya seharusnya juga dengan hati terbuka menerima sanggahanmu. Kamu pun harus menerima sanggahanku atas sanggahanmu. Yang salah di sini adalah kata ‘harus’ itu. Mestinya tidak ada. Karena ‘harus’ mewakili hirarki, dan jika kita berbicara dengan rekan satu tim, hirarki itu tidak ada.

Rekanmu berkata, barang yang kita jual di Indonesia harus membawa bendera hijau, karena 99 % penduduk Indonesia berwarna hijau. Untuk itu akan dijual dengan garis pemikiran ‘inilah barang yang paling diterima oleh penganut warna hijau di seluruh dunia.’

Rasionalmu langsung berontak dan mengatakan tidak bisa. Bagaimana bendera lainnya? Mereka minimal dan tidak signifikan, tetapi pendekatan berdasarkan kepengikutan warna bendera akan menimbulkan rasa SARA yang bukan bukan.

Mungkin lebih baik bila ditelaah dulu latar belakang pemikiran dasar itu. Mengapa sampai pada kesimpulan itu, apa tujuannya, bias bias apa yang mempengaruhi.

Jendela Jauhari ada empat bidang : kamu tahu, aku tahu — kamu tahu aku tak tahu — kamu tak tahu, aku tahu — kamu tak tahu aku tak tahu.  Kalau ini saling dibuka, mungkin tidak ada lagi perasaan : apakah aku terlalu bodoh kamu terlalu pintar, atau aku terlalu pintar kamu terlalu bodoh.

Memang perlu waktu. Pada dasarnya bila kita saling menghormati, maka tak akan ada yang terlompati.

Yang penting kemauan untuk berbagi dan menjadi satu tim.

Dan itu perlu waktu.

Adikku.

dj O.

Aku Sakit

Wednesday, March 23rd, 2005

Aku terkapar di tempat tidur besar

dengan penuh sadar

aku menatap langit langit

sementara rasa sakit di ujung jempol kakiku menggigit

menggigit.

menggigit.

menggigit.

aduh.

sakit. sakit. sakit sekali.

di benakku terpampang orang orang

yang selalu kuledek dan kujadikan bahan tertawaan

saat mereka terkena rasa sakit

yang disebabkan oleh auric acid.

aduh.

sakit.

sakit.

sakit.

ternyata asam urat itu sakit sekali.

sakit dua kali.

sakit seribu kali.

seribu kali lebih sakit.

daripada dicoblos jarum suntik.

aduh.

ingin menjerit.

tapi tokh.

ngga ada orang di sekelilingku.

ngga ada.

hanya aku.

dengan sakitku.

aduh.

auric acid.

namanya cantik.

tapi sakit.

Go Blog Go

Tuesday, March 22nd, 2005

Sitting lonely today

watching laughters floating around

and suddenly it occures to me

where all my times gone?

Smiles.

Laughters.

Sadness.

Tears.

From nothing.

Comes nothing.

And I am still

sitting here.

Lonely.

March 24, 2005.