Suatu hari. Ada acara selapanan cucuku terbaru. Sayang hari kerja. Semua hadir. Ayah si bayi. Ibu-ibu cucuku. Cucu-cucuku. Kecuali Wiedha, anakku. Dan Romi, mantuku.
Menjelang jam enam Wiedha datang. Sasa, hampir tiga tahun, berlari menyambutnya. Memeluk meluk ayahnya. Berlari mengelilinginya. Dan berteriak teriak gembira, "Ini ayah adik! Ini ayah adik! Ini ayah adik."
Najma, anak Astrid, sesaat memperhatikan itu. Kemudian tiba tiba bergerak. Setengah berlari. Meninggalkan halaman depan. Masuk ruang tamu. Akan berbelok ke ruang makan. Tidak jadi, mungkin karena banyak ibu ibu tertawa tertiwi di sana. Ragu ragu sejenak. Masuk ke kamarku. Dan tak keluar lagi.
Aku tertegun. Hampir tak kudengar Wiedha menyapa. Aku menyusul masuk ke kamar.
Najma berdiri di sudut. Tunduk. Bermain main tangannya. Menangis tanpa suara.
Najma. Belum tiga tahun. Kecil. Mungil. Imut. Menangis sesenggukan.
Hatiku sakit. Ingin memeluknya. Mendekapnya. Mengusap rambutnya. Ia menggelengkan kepala. Merentangkan tangan menolak.
"Kenapa, Wuk?" tanyaku. "Main di luar yuk. Mau coklat?"
Najma menggelengkan kepala. Matanya basah. "Ayah kakak di kantor! Ayah kakak di kantor!" katanya di antara sesenggukannya. "Kakak juga punya ayah!"
Aku menghela napas.
"Iya, iya … ayah Kakak di kantor … nanti datang …"
"Mau sekarang! Mau sekarang!"
Ibunya datang. Najma tidak mau beranjak. Eyang Utinya datang. Najma tidak mau beranjak. Pintu terbuka membawa suara Sasa meneriakkan ayahnya. Najma makin merajuk.
Aku tutup pintu. Aku berikan HP-ku padanya. "Telpun ayah, ya?" kataku menekan nomor kantor ayahnya. Di antara tangisnya ia mengangguk. Kuberikan HP padanya. Dan aku ke luar. Menutup pintu lagi.
Najma. Najma saja. Belum tiga tahun. Sudah kenal rindu. Cemburu. Iri.
Beberapa lama kemudian, ia ke luar. Memberikan HPku kembali. "Ma kasih, Akung," bisiknya. Dan ia memelukku.
Maret 30 2005