Secangkir Kenangan.
Siang.
Rame di kamar hotelku. Dan engkau haus. "Oh, semua gelas dah terpakai," kataku bingung — aku ingin memberikan yang terbaik untukmu, tapi kawan kawanmu telah minum lebih dahulu. "Biar aku cucikan satu." Aku sok galan.
"Ngga usah deh," katamu. "Ini cangkir siapa?" kamu mengangkat cangkirku. Masih ada air separuh di dalamnya. "Itu sih punya hotel," kataku mencoba bergurau.
"Biar aku cucikan satu," temanmu lagi lagi lebih cepat dariku. Masuk ke kamar mandi membawa sebuah gelas bekas.
"Iya, tapi tadi kamu minum dari ini, kan?" kamu tak memperhatikan dia. Oh, terima kasih, Tuhan! Matamu yang bening malah melihat aku, dan cangkir itu.
"I … iya," kataku gugup. Tak mengerti.
"Ya, udah, aku pake ya …" dan tanpa ragu kau minum dari cangkir itu. Aku terpana. Tak berani berkata apa apa. Bahkan tak berani melihat.
Malam.
Atau, tepatnya, pagi. Jam dua. Aku terseyok berjalan sendiri di lorong antar kamar hotel mewah itu. Sepi. Capek. Jalan jalan tak keruan di kota yang asing, di tanah asing.
Aku duduk di kamar yang luas. Tapi sepi. Dan terbayang kau tadi siang mondar mandir di sini. Berbaring di tempat tidur ini, dengan sepatu kets tetap kau pakai. Pipis di kamar mandi itu. Solat di depan pintu. Dan minum dari cangkir itu.
Aku angkat cangkir itu. Dadaku berdebar keras. Masih ada bekas lipstickmu. Jelas sekali.
Pelahan aku angkat. Dan aku minum sisa air di cangkir itu. Di cangkir itu.
Ah.
Betapa pun cepat kita berlari, kita tak kan bisa meninggalkan masa lalu. Kenangan itu selalu menyusul kita.
dj O.
March 27th, 2005 at 8:35 pm
aku
setiap detikku
selalu kupacu
kenangan2 baru
supaya
kenangan lama
tak kuasa
menyusul kita
tapi… entah lah
cuma 4 kata yang bisa terucap
so what gichu lhow
qeqeqeqe…
bucin
-selalu terjebak kenangan-
ps.
curang! kenapa bikin yg lebih pendek sih?
March 27th, 2005 at 11:31 pm
nulis swgl-nya mestinya :
so what gitzu loh.
(o sebelum h)
dj O.
June 20th, 2005 at 1:39 am
“we may be through with the past, but the past won’t through with us”